Tampilkan postingan dengan label kota kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota kudus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

RUMAH ADAT KUDUS ( GEBYOK )


Nilai Filosofis Rumah Adat Kudus

Rumah Adat Kudus, yang menurut kajian historis-arkeologis, telah ditemukan pada tahun 1500 – an M, dibangun dengan bahan baku 95 % berupa kayu jati dengan teknologi pemasangan sistem “knoc-down” (bongkar pasang tanpa paku). Merupakan seni ukir 4 dimensi dari perpaduan seni ukir Hindu, Persia (Islam), Cina, dan Eropa, dengan tetap ada nuansa ragam hias asli Indonesia. Keunikan Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik untuk dicermati adalah kandungan nilai-nilai filosofis yang direfleksikan rumah adat ini.

Bentuk ukiran dan motif
ragam hias ukiran, misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain.

Tata letak
rumah adat, misalnya arah hadap rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G. Muria (yang terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.

Tata ruang rumah adat


* Jogo satru / ruang tamu dengan soko geder-nya / tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT itu Tunggal/Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya
* Gedhongan dan senthong / ruang keluarga dengan 4 buah soko guru-nya. Tiang berjumlah 4 sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah
* Pawon / dapur
* Pakiwan (kamar mandi) sebagai simbol agar manusia membersihkan diri baik fisik maupun rohani
* Tanaman di sekeliling pakiwan, misalnya pohon belimbing, yang melambangkan 5 rukun Islam.
pandan wangi, sebagai simbol rejeki yang harum / halal dan baik,bunga melati, yang melambangkan keharuman, perilaku baik dan berbudi luhur, serta kesucian abadi.


Tata Cara Perawatan Rumah Adat Kudus
Kekhasan (keunikan) Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik adalah tatacara perawatan rumah adat yang dilakukan oleh masyarakat pemiliknya sendiri dengan cara tradisional dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Jenis bahan dasar yang digunakan untuk perawatan Rumah Adat Kudus merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Ramuan ini terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati, bahan dasar Rumah Adat Kudus, dari serangan rayap (termite) dan sekaligus meningkatkan pamor dan permukaan kayu menjadi lebih bersih, karena ramuan APT dan ARC dioleskan berulang-ulang ke permukaan dan komponen-komponen bangunan kayu jati.

[>>Read More..]

SERULING HARDIKNAS KABUPATEN KUDUS PECAHKAN REKOR MURI

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2010 di Kabupaten Kudus menjunjung tema pendidikan karakter membangun keberadaan bangsa. Peringatan ini dilaksanakan pada hari ini Senin 3 Mei 2010 di Alon-Alon Simpang 7 Kudus.
Dalam Peringatan ini Kabupaten Kudus berhasil memecahkan rekor MURI yaitu dengan peniupan seruling sebanyak 5.168 buah. Peniupan seruling ini bertujuan agar terjalin kerjasama antar para siswa untuk bersama-sama menghasilkan nada yang seirama.

Peniupan seruling ini diikuti oleh siswa-siswa se Kabupaten Kudus dengan jumlah sebanyak 5.168 siswa yaitu dari 31 SMP dan 20 SMA. Persiapan yang dilakukan oleh para siswa ini selama 3 minggu disekolah masing � masing. Dan untuk latihan bersama, sudah dilakukan selama 3 kali.
Sementara itu, Sri Widayanti dari MURI mengatakan, sebelumnya Kediri berhasil mengumpulkan 4. 415 peserta untuk meniup musik suling. Namun rekor itu pecah di Kudus. Dan untuk rekor di Kudus ini merupakan rekor yang ke 4.259. Pihaknya, dalam hal ini akan menyerahkan piagam MURI kepada Bupati Kudus, Disdikpora Kabupaten Kudus, panitia Hardiknas dan MGMP seni dan budaya SMP Kabupaten Kudus.

Sementara itu Bupati Kudus, Musthofa, mengatakan, moment ini tepat dilakukan oleh Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus. Karena bertepatan dengan Hardiknas, dan langkah ini merupakan langkah yang cerdas yang telah dilakukan oleh Disdikpora. Pihaknya selalu mendorong kepada dinas instansi lain di Kudus agar selalu melakukan pengembangan dan inovasi untuk berkreasi.

Dalam pemecahan rekor MURI itu, para siswa mengalunkan dua lagu, masing � masing Ondel � Ondel dan Suwe Ora Jamu.

[>>Read More..]

Senin, 03 Mei 2010

Lentog Tanjung Makanan Khas Kota Kretek

Lentog Tanjung

Tentunya makanan ini banyak dijumpai didesa Tanjung yang memang menyediakan berderet kios yang sama sama menjajakan makanan khas kota Kretek Lentog Tanjung.

Lentog, Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui tentang makanan khas kudus ini. orang - orang lebih mengenal dengan makanan khas kudus lainnya yaitu jenang kudus.

Jika orang jakarte punya ketoprak buat sarapan pagi, maka cah kudus punya makanan khas bernama lentog untuk sarapan. lentog kudus merupakan makanan khas di kudus dan sangat susah untuk ditemui di kota lainnya terutama Jakarta.

Lentog kudus merupakan makanan khas yang terdiri dari lontong yang diiris tipis - tipis lalu disiram dengan kuah gori (nangka muda) yang ada tahu tempenya dan ditaburi dengan bawang goreng. Untuk melengkapinya, anda bisa menambahkan lauk sate telor puyuh yang di semur . Bagi yang suka rasa pedas bisa meminta sambal yang cair maupun bisa mengambil cabe rawit rebus yang biasanya disediakan di mangkok depannya.

Seperti makanan khas kudus lainnya (Soto Kudus), porsi lentog sangatlah sedikit tidak heran jika untuk memenuhi perut dibutuhkan 2-3 porsi lentog. Untuk menambah kenikmatan ada baiknya anda ke jalan Tanjung (pusatnya lentog kudus) pada hari ahad bersama keluarga dengan menggunakan sepeda. Setelah agak sedikit lelah mengayuh, maka selera menyantap lentog akan semakin memuncak. Biasanya, untuk menemani makan lentog kudus penjual menyediakan teh botol.
Mwskipun makanan tersebut terbilang sederhana tapi rasa khas kudus itutak mungkin bisa digantikan, tak jarang para pelanggan lentog tanjung kebanyakan dari kelas menengah keatas. Apalagi jika kita datang pada hari minggu pagi jangan harap dapat tempat duduk longgar untuk dapat menikmati si lentog tanjung, kebanyakan pembelinya adalah orang orang yang selesai lari pagi dan sebagainya.
Gimana penasaran????? dtang ya kekota Kudus cobain lentog tanjung dan kuliner khas kudus lainnya.

resep dapat dilihat di label Kuliner

[>>Read More..]

PB Djarum



Perkumpulan Bulutangkis Djarum (disingkat PB Djarum) berdiri pada tahun 1974. Awalnya perkumpulan ini didirikan hanya sebagai kegiatan penyaluran hobi bagi karyawan pabrik rokok Djarum di Kudus. Namun, pada tahun 1970, akhirnya yang ikut berlatih bukan hanya karyawan, tetapi juga pemain dari luar. Ini adalah awal dari pembinaan Djarum dalam menyumbang pemain nasional dimulai.

Didorong kecintaan Robert Budi Hartono (CEO PT Djarum) pada bulutangkis serta tingginya kegemaran karyawan PT Djarum bermain dan berlatih pada olah raga yang sama. Maka pada tahun 1969 brak (tempat karyawan melinting rokok) di jalan Bitingan Lama (sekarang jalan Lukmonohadi) No. 35 - Kudus pada sore hari digunakan sebagai tempat berlatih bulutangkis di bawah nama komunitas Kudus.

Berawal dari situ, lahirlah atlet muda berbakat, Liem Swie King yang meraih prestasi demi prestasi secara gemilang, menumbuhkan keinginan Budi Hartono untuk serius mengembangkan kegiatan komunitas Kudus menjadi organisasi PB Djarum.

PB Djarum pernah gilang-gemilang ketika Indonesia merebut Piala Thomas pada 1984 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kala itu, dari delapan pemain, tujuh di antaranya berasal dari PB Djarum yaitu Liem Swie King, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Kartono, Heryanto, Christian Hadinata, dan Hadibowo. Satu pemain lagi adalah Icuk Sugiarto.
Perjalanan PB Djarum
Masa awal berdirinya

* 1969 : Karyawan Djarum mulai berlatih secara rutin di brak Bitingan Lama.
* 1970 : Brak menjadi tempat latihan masyarakat di luar karyawan Djarum.
* 1972 : Prestasi nasional pertama diraih Liem Swie King meraih Juara Tunggal Putra Junior di Piala Munadi.
* 1974 : PB Djarum Kudus diresmikan, diketuai Setyo Margono.
* 1976 : PB Djarum Semarang diresmikan. Liem Swie King mencapai All England Final, namun dikalahkan oleh Rudy Hartono.
* 1978 : Liem Swie King menjadi pemain PB Djarum pertama yang menjuarai Tunggal Putra All England. Liem Swie King tercatat menjadi Juara Tunggal Putra asal Indonesia ketiga.
* 1979 : Liem Swie King mengulangi sukses tahun sebelumnya dengan menjadi Juara All England lagi.
* 1981 : Liem Swie King menjadi juara All England untuk ketiga kalinya. Kartono / Heryanto menjadi Juara Ganda Putra All England.
* 1982 : Sarana bulutangkis terpadu dibuka di Kaliputu - Kudus.
* 1984 : Indonesia kembali merebut Thomas Cup. Tujuh dari delapan anggota tim Thomas berasal dari PB Djarum. Kartono / Heryanto kembali menjadi Juara Ganda Putra All England.
* 1985 : PB Djarum Jakarta diresmikan.
* 1986 : PB Djarum Surabaya diresmikan.
* 1989 : Atas dukungan Christian Hadinata pusat pelatihan di Jakarta diputuskan sebagai tempat pelatihan Pemain Ganda (Putra, Putri, dan Campuran). Runner-up Kejuaraan Dunia melalui Tunggal Putra kita Ardy B. Wiranata.
* 1990 : Terjadi unifikasi, PB Djarum Kudus dengan PB Djarum Jakarta, menjadi PB Djarum.
* 1991 : Juara I All England melalui Tunggal Putra Ardy B. Wiranata. Ardy adalah orang Indonesia ke-4 yang mampu menjadi Juara Tunggal Putra All England.
* 1992 : Alan Budikusuma meraih medali Emas Olimpiade. Eddy Hartono / Gunawan menjadi Juara Ganda Putra All England.
* 1993 : Juara I All England Tunggal Putra melalui Haryanto Arbi, Piala Dunia melalui Tunggal Putra Alan Budikusuma.
* 1994 : Juara I All England Tunggal Putra melalui Haryanto Arbi. Gunawan / Bambang Suprianto menjadi Juara Ganda Putra All England.
* 1995 : Juara I Kejuaraan Dunia Tunggal Putra diraih oleh Haryanto Arbi.
* 1996 : Perunggu Olimpiade Atlanta dimenangkan oleh Ganda Putra Antonius / Denny Kantono.
* 1997 : Sigit Budiarto / Chandra Wijaya menjadi Juara Dunia.
* 2000 : Perak Olimpiade Ganda Campuran melalui Trikus Haryanto / Minarti Timur.
* 2003 : Sigit Budiarto / Candra Wijaya menjuarai All England.
* 2004 : PB Djarum mulai pembangunan GOR bulutangkis bertaraf internasional di jalan Jati - Kudus. Di atas lahan 43.207 m2. Perunggu Olimpiade Athena dipersembahkan oleh Eng Hian / Flandy Limpele.
* 2006 : GOR Jati diresmikan.

Profil GOR

Sejak 2006 lalu atlet binaan PB Djarum tak lagi menempati GOR Kaliputu sebagai tempat latihan. GOR Kaliputu adalah GOR kedua yang pernah dipakai oleh PB Djarum – Kudus setelah GOR di Bitingan Lama, dari tahun 1982. GOR Kaliputu sendiri sekarang sudah tak dioperasikan untuk pusat pelatihan atlet PB Djarum, dan saat ini telah difungsikan untuk kegiatan latihan bulutangkis bagi masyarakat setempat.

GOR Jati mulai dibangun tahun 2004, kemudian diresmikan pada tanggal 27 Mei 2006. GOR ini difungsikan sebagai pusat pelatihan bagi sejumlah atlet PB Djarum yang dikriteriakan untuk Tunggal Putra dan Putri. Sedangkan, atlet yang dikategorikan untuk permainan Ganda mendapat pelatihan di PB Djarum Jakarta.

GOR Jati yang baru dibangun dibilangan Jati – Kudus, dan mengemban misi PB Djarum itu, pembangunannya total menghabiskan dana sebesar 30 miliar.

GOR Jati didirikan di atas lahan 43.207 m2 ini, memiliki standard internasional, bahkan disebut-sebut sebagai pusat pelatihan bulutangkis yang terbaik di Asia.

Kompleks GOR Jati memiliki luas 29.450 m2 terdiri dari gedung olahraga, seluas 4.925 m2 dengan 16 lapangan terbagi dalam 12 lapangan beralaskan kayu sisanya beralaskan vinil (karet sintetis) yang dilengkapi tribun penonton di kanan kirinya, serta bangunan penunjang lainnya seperti ruang pertemuan, ruang perkantoran, ruang makan, ruang fitness, ruang computer, ruang audio visual, dan ruang perpustakaan.

Selain itu juga terdapat asrama atlet seluas 1.834 m2 memiliki 40 kamar terpisah untuk putra dan putri dengan kapasitas dua orang untuk setiap kamar berikut fasilitas tempat tidur dan meja belajar. Rumah pelatih yang didirikan pada lahan seluas 312 m2 juga menjadi satu komplek di GOR Jati.
Profil Pendidikan

PB Djarum sejak dini telah menanamkan visi kepada seluruh atletnya, agar mereka tidak mencetak keberhasilan di arena pertandingan saja, tapi juga mencetak keberhasilan di bangku sekolah.

Membagi kegiatan antara latihan bulutangkis dengan sekolah, memang bukan tugas yang mudah bagi para atlet PB Djarum, terlebih lagi mereka-mereka ini yang kebanyakan masih duduk di bangku sekolah seperti SD, SMP, dan SMA. Namun, untuk menyelaraskan dua kegiatan tersebut, PB Djarum mengambil langkah bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Sehingga, kegiatan antara latihan bulutangkis dengan sekolah yang dijalani oleh para atlet bisa berjalan baik, dan tidak mengganggu satu sama lain.

Kerjasama yang dilakukan antara PB Djarum dengan Depdikbud adalah dengan pemberian dispensasi waktu di sekolah untuk para atlet. atlet diberikan ijin untuk memulai waktu belajarnya di sekolah tidak seperti siswa lain pada umumnya. Mereka juga diberi kemudahan memperoleh ijin meninggalkan sekolah pada saat mereka harus mengikuti kejuaraan.

Selama ini sekolah-sekolah yang sudah diajak bekerjasama oleh PB Djarum guna mendukung kemampuan akademis para atletnya yang berasal dari segala jenjang pendidikan tersebut adalah SD Barongan II, SMP Taman Dewata, dan SMA Kramat.
Profil Pelatihan

"atlet harus berusaha keras, jika tak ada usaha maka tak ada pula gelar juara yang datang dengan mudah" (dikutip dari CEO PT. Djarum, Budi Hartono).

Ungkapan di atas ada benarnya, lebih lagi bagi mereka para atlet yang ikut tergabung di pelatihan klub PB Djarum. Maka untuk bergabung di klub PB Djarum menjadi atlet, sebelumnya para calon atlet diwajibkan mengikuti tahapan seleksi.

Seleksi awal untuk para calon atlet yang akan dibina meliputi faktor umur, tinggi badan, bakat, kemampuan intelektual, keseimbangan psikologisnya, kemampuan teknik dasar, serta sampai sejauh mana dukungan yang diperoleh dari orang tua.

Bila lolos seleksi awal, maka para calon atlet ini sudah bisa diputuskan untuk mengikuti kegiatan pelatihan di klub PB Djarum. Setelah itu, untuk setiap tahunnya akan dilakukan seleksi kelanjutan, seperti dalam hal kemampuan bertanding. Apabila kemampuan bertanding dari atlet bersangkutan tidak pernah meningkat, maka dengan berat hati PB Djarum akan memulangkannya.

Hal diatas dilakukan mengingat PB Djarum memberlakukan sistem promosi-degradasi dalam tahapan pelatihan para calon-calon atletnya.

Sistem demikian dianut oleh PB Djarum, karena untuk meningkatkan iklim kompetitif di kalangan atlet. Sehingga dengan kegagalannya, atlet bisa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri ataupun mengembangkan karirnya di bidang lain.

Sedangkan mengenai pemulangan atlet, PB Djarum juga telah menetapkan klausalnya secara tertulis, sehingga setiap orang tua atlet di PB Djarum juga akan mengetahui hal tersebut dari awal.
PB Djarum Hall of Fame

Sederetan atlet PB Djarum telah mengukir prestasi di ajang internasional, mereka adalah : Alan Budikusuma, Antonius Budi Ariantho, Ardy B. Wiranata, Budi Santoso, Christian Hadinata, Denny Kantono, Eddy Hartono, Hadibowo Susanto, Hadiyanto, Hariyanto Arbi, Hastomo Arbi, Heryanto, Ivana Lie, Kartono, Liem Swie King, Minarti Timur, Rudy Gunawan, Yuliani Santosa, Yuni Kartika dan Zelin Resiana.
Tim : atlet PB Djarum

Berikut adalah deretan atlet PB Djarum yang kini dikenal dengan nama tim Superliga : Andre Kurniawan Tedjono, Andreas Adityawaran, Ari Yuli Wahyu Hartanto, Debby Susanto, Febby Angguni, Fran Kurniawan, Luluk Hadiyanto, Maria Elfira Christina, Maria Kristin Yulianti, Meiliana Jauhari, Mohammad Ahsan, Nugroho Andi Saputro, Purwati, Rian Sukmawan, Rintan Apriliana Sutanto, Rosaria Yusfin Pungkasari, Shendy Puspa Irawati, Sigit Budiarto, Sylvinna Kurniawan, Yonathan Suryatama Dasuki dan Yulianti.
Tim : Pelatih

Para pelatih yang mengasah kemampuan bermain badminton dari para atlet PB Djarum untuk meraih prestasi demi prestasi, diantaranya adalah Agus D Santoso, Antonius Budi Ariantho, Aryono Miranat dan Fang Kai Xiang.

[>>Read More..]

Objek Wisata Colo




Obyek wisata Colo merupakan kawasan wisata yang berada di Pegunungan Muria. Pegunungan Muria memiliki ketinggian sekitar 1.602 m dpl (di atas permukaan laut) dan merupakan kawasan dataran tinggi yang terdiri dari beberapa gunung atau bukit, antara lain: Gunung Argo Jembangan, Gunung Argo Ploso, Gunung Rahtawu, Bukit Pasar, dan Bukit Ringgit.
Nama colo sendiri diambil dari nama sebuah desa yang terletak di puncak Gunung Muria. Karena colo adalah nama yang konon diberikan secara langsung oleh Sunan Muria, maka nama inilah yang kemudian digunakan untuk menyebut kawasan wisata ini. Obyek wisata Colo merupakan sebuah kawasan yang memiliki beberapa obyek wisata yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu obyek wisata religius dan obyek wisata alam.

Keistimewaan

Di kawasan obyek wisata Colo, pengunjung dapat menikmati panorama alam pegunungan yang indah dengan udara yang bersih dan sejuk. Selain itu, di kawasan obyek wisata ini juga terdapat beberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pertama, Makam Sunan Muria. Makam Sunan Muria (Syekh R. Umar Said, salah satu dari walisanga/wali sembilan) menyatu dengan Masjid Sunan Muria yang terletak di salah satu puncak Gunung Muria. Makam Sunan Muria dapat dicapai dengan berjalan kaki melewati sekitar 700 tangga dari pintu gerbang di dekat lokasi parkir mobil/bus.

Makam Sunan Muria adalah salah satu tujuan wisata ziarah di Kota Kudus, selain Makam Sunan Kudus di Masjid Menara Kudus. Makam Sunan Muria sangat ramai dikunjungi peziarah yang berasal dari berbagai daerah, terutama pada saat Upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tanggal 6 Muharam. Dalam Upacara Buka Luwur ini, para peziarah berusaha mendapatkan luwur (bekas kain penutup makam) yang dipercaya dapat membawa keberuntungan.

Kedua, Air Terjun Monthel. Dari Makam Sunan Muria, Air terjun dengan ketinggian sekitar 25 meter ini dapat dicapai dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Untuk mencapainya, pengunjung dapat menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan kebun kopi—sambil menikmati kesejukan udara dan panorama alam pegunungan yang asri dan indah. Selain itu, sepanjang perjalanan pengunjung juga akan dihibur oleh alunan irama musik alam dari bunyi gemericik air terjun yang jatuh di bebatuan yang diselingi kicauan burung-burung dan bunyi-bunyian satwa liar khas pegunungan. Sesampainya di Air Terjun Monthel, pengunjung dapat mandi atau bermain air sepuasnya—sambil menikmati sejuk dan segarnya air yang bersumber dari Gunung Muria.

Ketiga, Wisata Alam Rejenu. Kawasan wisata alam (ecotourism) Rejenu memiliki ketinggian sekitar 1.150 m dpl. Kawasan wisata yang terletak di Pegunungan Argo Jembangan (salah satu puncak dari Gunung Muria) ini berjarak sekitar 3 km dari Makam Sunan Muria. Di kawasan Eko Wisata Rejenu, pengunjung dapat menyaksikan dan mengamati berbagai jenis tumbuhan pegunungan. Selain menikmati panorama alam pegunungan, wisatawan juga dapat berkunjung ke obyek wisata lainnya yang berada di kawasan ini, antara lain:

Makam Syekh Sadzali. Menurut masyarakat setempat, Syekh Sadzali adalah murid/santri Sunan Muria yang sangat setia mendampingi dan membantu Sunan Muria dalam menyebarluaskan agama Islam di sekitar lereng Gunung Muria. Oleh karena itu, Syekh Syadzali senantiasa dihormati oleh masyarakat dan makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah.

Sumber Air Tiga Rasa. Di kawasan wisata Rejenu terdapat mata air yang memiliki tiga rasa, yaitu: rasa tawar-tawar masam yang bekhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, rasa yang mirip dengan minuman ringan bersoda yang bekhasiat menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup, dan rasa mirip minuman keras sejenis tuak/arak yang bekhasiat memperlancar rezeki.

Air Terjun Gonggomino. Di kawasan wisata Rejenu terdapat Air Terjun Gonggomino yang merupakan air terjun kedua selain Air Terjun Monthel. Air Terjun Gonggomino dapat dicapai dengan menyusuri sebuah sungai yang terdapat di kawasan Rejenu.

Keempat, Bumi Perkemahan dan Wana Wisata Kajar. Obyek wisata ini terletak di kawasan hutan pinus, berjarak sekitar 3 km ke arah selatan dari Makam Sunan Muria. Dengan ketinggian mencapai 600 m dpl, kawasan Kajar merupakan lokasi yang cocok untuk kegiatan perkemahan dan jelajah medan/lintas alam.

Lokasi

Obyek wisata Colo terletak sekitar 18 km ke arah utara dari pusat Kota Kudus (Alun-alun), tepatnya di kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Akses

Meskipun obyek wisata Colo berada di sekitar puncak Pegunungan Muria, namun tidak terlalu sulit untuk menjangkaunya. Dari arah Semarang, pengunjung dapat menggunakan bus jurusan Semarang—Kudus. Setelah sampai di Terminal Kudus, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota jurusan Colo.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar obyek wisata Colo tersedia berbagai macam akomodasi dan fasilitas, antara lain: Graha Muria yang dibangun Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai tempat peristirahatan, penginapan, dan ruang pertemuan, lahan parkir mobil dan bus, mushola, dan warung makan yang menjual masakan khas Colo, yaitu nasi pecel pakis, ayam bakar, dan buah parijoto. Selain itu, di sekitar kawasan ini juga terdapat kios-kios yang menjual cenderamata khas Colo, seperti tongkat colo dan kayu pengusir tikus.

[>>Read More..]

Sabtu, 01 Mei 2010

Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat


Masjid Menara Kudus punya gapura yang bentuknya berbeda dengan bangunan masjid pada umumnya di Indonesia. Gapura dan bangunan menara terbuat dari tumpukan batu merah yang menyisakan daya pikat.

Pada bulan Ramadhan, masjid kuno tersebut masih tetap menarik. Bukan saja bagi wisatawan manca negara, tetapi juga para peziarah domestik banyak berdatangan ke tempat tersebut. Banyak wisatawan lokal yang nampak khusuk membaca Alquran di sisi gapura yang berada di dalam masjid. Sengaja mendekati gapura tersebut dengan maksud agar lebih khusuk ketika berdoa. Gapura yang berada dalam masjid tersebut tetap kokoh seperti bentuk aslinya yang kaya nilai historis.

Pada Ramadhan, Masjid Menara Kudus ramai dikunjungi umat Muslim dari berbagai penjuru tanah air. Tak terkecuali para pedagang pun memanfaatkan momentum bulan suci itu untuk meraih keuntungan sambil menjajakan dagangannya di seputar kawasan masjid bersejarah tersebut.

Banyak di antara peziarah memanfaatkan Ramadhan ini selain untuk beritikaf, juga menziarahi makam Sunan Kudus yang lokasinya di sisi barat masjid tersebut. Usai membaca Alquran dan berdoa, para peziarah mengambil wudhu di kolam bagian luar kompleks makam yang terkenal dengan air sejuknya.Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Masjid ini kini menjadi salah satu tempat bersejarah penting bagi umat Islam di Jawa.

Menurut sejarahnya, masjid tersebut berdiri pada 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa. Tempat itu dinamakan sama dengan salah satu masjid di Palestina yang kini tetap menjadi perhatian internasional itu.

Menurut kajian historis, adalah Ja`far Sodiq (kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus) yang pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang kemudian diberi nama masjid Al-Aqsa di Kudus itu.

Belakangan justru masjid tersebut populer dengan panggilan Menara Kudus. Hal ini lantaran merujuk pada menara candi di sisi timur yang memakai arsitektur bercorak Hindu Majapahit.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, memang dengan bijak para penyebar Islam menghargai tradisi leluhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al Quran. Sehingga, antara agama dan budaya setempat saling menopang dan saling mengisi. Agama tak berkembang tanpa wadah budaya dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama.

Keunikan bentuk masjid ini memang sulit dilupakan. Pasalnya, bentuk ini tak ada yang menyamai di seluruh dunia. Bentuk arsitekturalnya khas dan mempesona. Menurut salah seorang pengunjung, untuk menghormati pemeluk agama Hindu, warga yang bermukim di Kudus tidak menyembelih binatang sapi, mengingat binatang tersebut dalam Hindu dihormati bagi pemeluknya. Mereka taat dan masih memegang wasiat Sunan Kudus.

Menurut sebuah laman, yang ditulis Bambang Setia Budi, bangunan menara Kudus mempunyai ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar. Seluruh bangunan menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu.

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk.

Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Hubungan historis

Karena usianya, Masjid Menara Kudus menjadi perhatian para peneliti dan pelancong manca negara. Dalam berbagai laman ditemukan cerita bahwa masjid ini selain masih mempunyai kaitan historis dengan penganut Hindu masa Majapahit, juga punya hubungan historis dengan bangsa lainnya di dunia.

Suprapto, salah seorang pemerhati masjid ini menyebutkan lewat sebuah laman bahwa para ahli sejarah, peneliti, arkeolog, dan penulis buku sejarah kepurbakalaan, umumnya terfokus pada sejarah dan keunikan bentuk bangunannya saja.

Ternyata, kata dia, pernak-pernik Masjid Menara, terutama keramiknya, justru tak kalah menariknya dengan bangunan masjid. Lantas ia menceritakan temuan dua arkeolog asal Jepang, Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi, yang meneliti dan menelusuri asal mula berbagai keramik di Masjid Menara tersebut. Hasilnya, dua di antara sekian banyak keramik yang menjadi semacam hiasan di Masjid Menara adalah buatan pabrik keramik di Vietnam abad ke-14 hingga ke-15.

Pabrik itu sudah cukup lama hilang dari peredaran. Sebaliknya, keramik buatan China masih terus berproduksi hingga sekarang. Salah satu penyebabnya, kualitas keramik buatan China lebih bagus.

Namun, bukan semata-mata masalah kualitas yang ditelusuri Sakai dan Takimoto, melainkan berhubungan dengan agama dan peradaban. Warga Vietnam secara umum beragama Hindu dan Buddha. Sedangkan Sunan Kudus, pendiri Masjid Menara, adalah salah satu Wali Songo di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelusuran sementara mereka di sejumlah tempat bersejarah dan makam Wali Songo, keramik asal Vietnam pada saat itu paling banyak ditemukan. Ini sungguh menarik untuk ditelusuri.

Dua buah keramik buatan Vietnam di masjid tersebut, satu di antaranya menempel di atas "pintu" bagian utara. Bentuknya segi empat, dengan warna dasar putih, di bagian tengah berwarna sedikit kebiruan dengan motif bunga. Ini usianya paling tua, yaitu awal abad ke-14 atau sekitar tahun 1450.

Keramik satunya lagi menempel di "pintu" sebelah selatan, dengan bentuk lebih besar, lebih menarik, dan lebih didominasi warna biru dengan motif bunga. Umurnya lebih muda, yaitu sekitar menjelang atau awal abad ke-15. Keramik ini bermotif bunga yang "berbau" Vietnam dan bentuknya "berbau" Islam.

Motif dan bentuk semacam ini bisa ditemukan di Istambul

[>>Read More..]

Sejarah Kota Kudus



Sejarah Kota Kudus
Sejarah tentang hari jadi Kota Kudus di tetapkan pada tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang hari jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era Bupati Kolonel Soedarsono.

Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus hal ini di tunjukan oleh Skrip yang terdapat pada Mihrab di Masjid Al-Aqsa Kudus ( Majid Menara), di ketahui bahwa bangunan masjid tersebut didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M.
Mengenai asal usul nama Kudus menurut dongeng / legenda yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di Tanah Arab, kemudian beliau pun mengajar pula di sana. Pada suatu masa, di Tanah Arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit tersebut menjadi reda berkat jasa Sunan Kudus. Olek karena itu, seorang amir di sana berkenan untuk memberikan suatu hadiah kepada beliau, akan tetapi beliau menolak, hanya sebagai kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut menurut sang amir berasal dari kota Baitul Makdis atau Jeruzalem (Al Quds), maka sebagai peringatan kepada kota dimana Ja’far Sodiq hidup serta bertempal tinggal, kemudian diberikan nama Kudus.

Sejarah Sunan Kudus
Dja’far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agam islam di sekitar daerah Kudus khususnya di Jawa Tengah pesisir utara pada umumnya. Beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama islam di daerah Kudus dan sekitarnya.

Terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama. Terutama dalam ilmu agama Tauhid, Usul, Hadits, Sastra Mantiq dan lebih-lebih didalam Ilmu Fiqih. Oleh sebab itu, digelari dengan sebutan sebagai Waliyyul ‘Ilmi. Beliau yang termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. Diantara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

Disamping bertindak sebagai guru islam, juga sebagai salah seorang yang kuat syariatnya. Sunan Kudus pun menjadi Senopati dari Kerajaan Islam di Demak. Bekas peninggalan beliau antara lain adalah Masjid Raya di Kudus, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus. Oleh Karena di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah.

Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama islam tidak berbeda dengan para wali lainnya, yaitu senantiasa dipakai jaln kebijaksanaan, dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat dapat diajak memeluk agama islam.

Sejarah Sunan Muria
Raden Umar Syaid, atau Raden Said dikenal dengan sebutan Sunan Muria, adalah termasuk salah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. Nama kecilnya ialah Raden Prawoto. Beliau adalah putra dengan Sunan Kalijaga dengan Dewi Soejinah putri Sunan Ngudung. Jadi, kakak dari Sunan Kudus. Sunan Muria memperoleh seorang putra yang diberi nama Pangeran Santri, dan kemudian mendapat julukan Sunan Ngadilungu. Suan Muia yang terhitung salah seorang penyokong dari Kerajaan Bintoro. Beliau yang ikut mendirikan Masjid Demak. Beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, bergaul serta hidup di tengah-tengah rakyat jelata. Sunan Muria lebih suka mendidik rakyat jelata tentang agama islam di sepanjang lereng Gunung Muria yang terletak 18 km jauhnya sebelah utara Kota Kudus sekarang. Cara beliau menjalankan dakwah ke-islam-an, adalah dengan jalan mengadakan pelatihan terhadap kaum dagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah kabarnya yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya sebagai seni jawa yang sangat digemari rakyat serta dipergunakannya untuk memasukkan rasa ke-islaman ke dalam jiwa rakyat untuk mengingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Disamping itu, beliau adalah pencipta dari gending “Sinom dan Kinanti”. Kini beliau dikenal dengan sebutan Sunan Muria oleh karena beliau di Makamkan di atas Gunung Muria, termasuk dalam wilayah Kudus.

[>>Read More..]

[>>Read More..]
Template by : kendhin x-template.blogspot.com